Bekantan: Penjaga Mangrove yang Unik dari Tanah Kalimantan

Kalimantan tidak hanya di kenal sebagai paru-paru dunia karena hutan hujannya yang luas, tetapi juga sebagai rumah bagi salah satu makhluk paling unik dan karismatik di planet ini: Bekantan (Nasalis larvatus)

Kalimantan tidak hanya di kenal sebagai paru-paru dunia karena hutan hujannya yang luas, tetapi juga sebagai rumah bagi salah satu makhluk paling unik dan karismatik di planet ini: Bekantan (Nasalis larvatus). Dengan hidung panjangnya yang khas dan perut buncit yang ikonik, Bekantan telah menjadi daya tarik bagi para peneliti dan pecinta alam di seluruh dunia.

Mengenal Sang Monyet Belanda

Nama “Bekantan” mungkin terdengar asing bagi masyarakat luar Kalimantan, namun di tingkat internasional, primata ini di kenal dengan sebutan Proboscis Monkey. Menariknya, masyarakat lokal di Kalimantan Selatan sering menjuluki mereka sebagai “Monyet Belanda.” Sebutan jenaka ini muncul karena ciri fisik bekantan—hidung besar, wajah kemerahan, dan perut buncit—dianggap mirip dengan penampilan orang-orang Eropa pada masa kolonial.

Secara taksonomi, Bekantan termasuk dalam keluarga Cercopithecidae dan merupakan satu-satunya spesies dalam genus Nasalis. Mereka adalah primata arboreal (hidup di pohon) yang memiliki keterikatan sangat kuat dengan ekosistem air.

Ciri Fisik yang Tak Tertukar

Keunikan utama Bekantan terletak pada di morfisme seksualnya yang sangat mencolok, terutama pada bagian hidung.

1. Fenomena Hidung Panjang

Pada jantan dewasa, hidung bisa tumbuh sangat besar dan menggantung hingga melewati mulut. Para ilmuwan meyakini bahwa hidung besar ini berfungsi sebagai alat seleksi seksual. Semakin besar hidungnya, semakin keras suara resonansi yang di hasilkan untuk menarik perhatian betina dan mengintimidasi jantan rival. Sebaliknya, betina memiliki hidung yang jauh lebih kecil dan agak meruncing ke atas (mancung).

2. Sistem Pencernaan dan Perut Buncit

Warna bulu Bekantan di dominasi oleh cokelat kemerahan di bagian punggung dan kepala, sementara bagian perut, kaki, dan ekor berwarna abu-abu keputihan. Perut mereka terlihat sangat buncit karena sistem pencernaan yang kompleks. Sebagai pemakan daun (folivora), mereka memiliki perut yang terbagi-bagi menjadi beberapa ruang berisi bakteri khusus untuk memfermentasi selulosa dan menetralisir racun dari daun-daunan tertentu.

Habitat dan Kehidupan Sosial

Habitat dan Kehidupan Sosial. Bekantan adalah penghuni setia hutan bakau (mangrove), hutan rawa, dan hutan riparian (pinggir sungai). Mereka jarang di temukan jauh dari sumber air.

Perenang yang Handal

Berbeda dengan kebanyakan primata yang takut air, Bekantan adalah perenang yang luar biasa. Mereka memiliki selaput tipis di antara jari-jari kaki mereka yang membantu saat berenang. Mereka bahkan mampu menyelam hingga kedalaman 20 meter dan sering kali melompat dari dahan pohon ke sungai untuk menyeberang atau sekadar menghindari predator seperti buaya atau macan dahan.

Struktur Kelompok

Bekantan hidup dalam kelompok sosial yang terorganisir. Biasanya terdapat dua jenis kelompok:

  • Kelompok One-Male: Terdiri dari satu jantan dominan dan beberapa betina beserta anak-anak mereka.
  • Kelompok All-Male: Kelompok yang terdiri dari jantan-jantan muda yang belum memiliki pasangan.

Perilaku Makan: Diet yang Selektif

Meskipun terlihat rakus karena perutnya yang besar, Bekantan sebenarnya adalah pemilih makanan yang sangat ketat. Makanan utama mereka meliputi:

  • Pucuk daun muda.
  • Buah-buahan mentah (mereka menghindari buah matang karena kandungan gula yang tinggi dapat menyebabkan kembung yang mematikan akibat fermentasi berlebih).
  • Bunga dan biji-bijian.
  • Sesekali serangga kecil.

Karena diet khusus ini, menjaga kelestarian vegetasi asli di habitat mereka sangatlah krusial. Hilangnya satu jenis pohon makanan dapat mengganggu kesehatan seluruh koloni.

Status Konservasi: Di Ambang Kepunahan

Sayangnya, keunikan Bekantan tidak menjamin keamanan mereka di alam liar. Berdasarkan daftar merah IUCN, Bekantan berstatus Terancam Punah (Endangered). Populasi mereka di perkirakan telah menurun lebih dari 50% dalam kurun waktu 40 tahun terakhir.

Ancaman Utama

  1. Fragmentasi Habitat: Alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan pemukiman manusia telah menghancurkan koridor hijau di sepanjang sungai.
  2. Kebakaran Hutan: Kebakaran hebat yang sering melanda Kalimantan menghancurkan sumber makanan dan tempat tinggal mereka.
  3. Perburuan Liar: Meskipun sudah di lindungi oleh undang-undang, praktik perburuan untuk konsumsi atau perdagangan ilegal masih terjadi di beberapa wilayah terpencil.

Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut, Kalimantan Selatan

Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut, Kalimantan Selatan. Terletak tepat di bawah Jembatan Barito, Pulau Bakut adalah salah satu lokasi paling populer dan mudah di akses dari Banjarmasin.

  • Keunikan: Merupakan pusat rehabilitasi dan konservasi. Pengunjung berjalan di atas jembatan kayu (titian) sepanjang hutan mangrove agar tidak mengganggu tanah habitat asli.
  • Waktu Terbaik: Pagi hari (06.00 – 08.00) atau sore hari (16.00 – 18.00) saat mereka aktif mencari makan di tepian sungai.
  • Tips Etis: Gunakan teropong atau lensa kamera zoom. Jangan berisik, karena suara keras dapat membuat mereka stres dan lari ke tengah hutan.

Stasiun Riset Bekantan – Pulau Curiak, Barito Kuala

Di kelola oleh yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), tempat ini lebih berfokus pada pendidikan dan penelitian.

  • Keunikan: Pengamatan di lakukan menggunakan perahu tradisional (klotok) dari sungai. Ini adalah cara paling etis karena memberikan jarak aman antara manusia dan satwa.
  • Kegiatan: Selain mengamati, pengunjung sering diajak belajar tentang penanaman pohon mangrove sebagai upaya restorasi habitat.
  • Akses: Memerlukan janji temu atau mengikuti paket edukasi khusus dari SBI.

Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah

Meskipun terkenal dengan Orangutannya, Tanjung Puting juga merupakan rumah bagi populasi besar Bekantan liar.

  • Keunikan: Anda bisa melihat mereka bergelantungan di dahan-dahan pohon di sepanjang Sungai Sekonyer. Seringkali terlihat rombongan besar (kelompok all-male atau harem) yang sedang bersiap tidur di pohon pinggir sungai saat senja.
  • Tips Etis: Pastikan kapal klotok Anda menjaga kecepatan rendah dan tidak menggunakan lampu sorot yang menyilaukan saat malam hari.

Kampung Wisata Bekantan – Graha Indah, Balikpapan

Lokasi ini membuktikan bahwa konservasi bisa berjalan berdampingan dengan area pemukiman di Kalimantan Timur.

  • Keunikan: Anda akan menyusuri hutan mangrove yang luas menggunakan perahu. Warga lokal di sini sangat aktif menjaga ekosistem mangrove demi kelangsungan hidup Bekantan.
  • Kegiatan: Pengamatan burung-burung air dan ekosistem mangrove yang masih sangat alami meski dekat dengan kota.

Upaya Penyelamatan di Indonesia

Upaya Penyelamatan di Indonesia. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta berbagai organisasi non-pemerintah (NGO), terus berupaya melindungi primata ini. Salah satu langkah nyata adalah penetapan Bekantan sebagai Maskot Provinsi Kalimantan Selatan melalui SK Gubernur tahun 1990.

Beberapa pusat rehabilitasi dan konservasi telah di dirikan, seperti:

  • Suaka Margasatwa Kuala Lupak: Kawasan mangrove yang menjadi benteng pertahanan populasi Bekantan.
  • Pulau Bakut: Sebuah kawasan konservasi di bawah jembatan Barito yang menjadi laboratorium alam untuk pengamatan Bekantan.
  • Sahabat Bekantan Indonesia (SBI): Organisasi yang aktif dalam penyelamatan, rehabilitasi, dan edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem lahan basah.

Mengapa Kita Harus Peduli?

Menjaga Bekantan bukan sekadar menyelamatkan satu spesies monyet. Bekantan adalah spesies payung (umbrella species). Artinya, dengan melindungi habitat Bekantan (hutan mangrove dan rawa), kita secara otomatis melindungi ribuan spesies lain, menjaga kualitas air sungai, dan mencegah abrasi pantai.

Hutan mangrove tempat mereka tinggal juga merupakan penyerap karbon yang sangat efektif, yang berperan penting dalam memitigasi perubahan iklim global. Kehilangan Bekantan adalah tanda awal runtuhnya ekosistem lahan basah Kalimantan.

Kesimpulan

Bekantan adalah keajaiban evolusi yang memberikan warna tersendiri bagi kekayaan biodiversitas Indonesia. Hidung besarnya bukan sekadar pemandangan lucu, melainkan simbol dari kompleksitas alam yang perlu kita pelajari dan hargai.

Pada akhirnya, menjaga kelestarian primata ini bukan sekadar tugas pemerintah atau para pejuang lingkungan semata, melainkan sebuah amanah bagi kita semua. Inilah tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa napas hutan tetap berdenyut, agar anak cucu kita kelak masih bisa menyaksikan siluet ‘Sang Monyet Belanda’ yang menari di antara dekapan dahan dan hijaunya rimba mangrove Kalimantan Bekantan