
Di tengah kemegahan monumen kuno dan jalanan berbatu Kota Abadi, terdapat satu entitas yang detak jantungnya seirama dengan denyut nadi penduduk Roma: Associazione Sportiva Roma
Di tengah kemegahan monumen kuno dan jalanan berbatu Kota Abadi, terdapat satu entitas yang detak jantungnya seirama dengan denyut nadi penduduk Roma: Associazione Sportiva Roma. Lebih dari sekadar klub sepak bola, AS Roma adalah representasi jiwa dari masyarakat kelas pekerja Roma. Sebuah warisan yang di wariskan dari generasi ke generasi melalui simbol Lupetto (Serigala Kecil) dan warna merah marun-emas yang ikonik.
Kelahiran dari Penyatuan
Menilik jauh ke belakang, sejarah AS Roma di mulai pada musim panas tahun 1927. Sepak bola Italia di dominasi oleh klub-klub dari wilayah Utara seperti Juventus, AC Milan, dan Inter Milan. Oleh karena itu, untuk menandingi dominasi tersebut, Italo Foschi memprakarsai penggabungan tiga klub lokal Roma: Alba-Audace, Fortitudo-Pro Roma, dan Roman FC.
Dari penyatuan strategis inilah lahir AS Roma. Sejak awal berdiri. Klub ini memilih warna Giallorossi (Kuning-Merah)—warna resmi kota Roma yang melambangkan kekaisaran dan kemuliaan.
Era Keemasan dan Kejayaan Scudetto
Meskipun sering dianggap sebagai underdog jika di bandingkan dengan raksasa Utara, Roma nyatanya memiliki catatan sejarah yang membanggakan dengan raihan tiga gelar Scudetto (Juara Liga Italia).
-
Scudetto Pertama (1941/42): Di raih di tengah gejolak Perang Dunia II, gelar ini membuktikan bahwa tim dari Ibu Kota mampu mematahkan dominasi Utara.
-
Era Nils Liedholm (1982/83): Selanjutnya, di bawah asuhan pelatih legendaris Swedia. Nils Liedholm, dan di pimpin oleh “Il Divino” Paulo Roberto Falcão, Roma memainkan sepak bola paling elegan di Eropa. Sayangnya, meski mereka mencapai final Piala Champions 1984, mereka harus kalah menyakitkan dari Liverpool lewat adu penalti di rumah sendiri, Stadio Olimpico.
-
Milenium Baru (2000/01): Memasuki era modern, di bawah tangan dingin Fabio Capello dan ketajaman Gabriel “Batigol” Batistuta, Roma meraih gelar liga ketiga mereka. Momen krusial ini mengukuhkan posisi Roma sebagai salah satu Sette Sorelle (Tujuh Saudari) sepak bola Italia.
Ikonen: Francesco Totti dan Daniele De Rossi
Ikonen: Francesco Totti dan Daniele De Rossi. Berbicara tentang AS Roma tanpa menyebut Francesco Totti adalah sebuah kemustahilan. Hal ini di karenakan Totti bukan sekadar pemain; ia adalah personifikasi dari klub itu sendiri. Selama 25 tahun karier profesionalnya, ia bahkan menolak tawaran dari klub-klub terkaya dunia demi tetap setia pada warna merah dan emas.
Setelah era Totti berakhir, tongkat estafet kemudian di teruskan kepada Daniele De Rossi, sang “Capitan Futuro.” Loyalitas mereka menciptakan standar moral yang unik di Roma: bahwa memenangkan satu gelar bersama Roma bernilai lebih tinggi daripada memenangkan sepuluh gelar di tempat lain.
Budaya Fans: Curva Sud yang Membara
Sementara itu di tribun, Stadio Olimpico adalah kuil bagi para pendukung Roma, dan Curva Sud adalah altarnya. Di sinilah para Romanisti berkumpul untuk menyanyikan lagu kebangsaan klub, “Roma Roma Roma” karya Antonello Venditti, sesaat sebelum pertandingan dimulai.
Gairah fans Roma memang di kenal sangat emosional. Bagi mereka, mendukung Roma bukan semata-mata tentang mengoleksi trofi, melainkan tentang kesetiaan pada identitas kota. Akibatnya, rivalitas dengan tetangga sekota, SS Lazio, dalam Derby della Capitale, senantiasa di anggap sebagai salah satu persaingan paling panas dan penuh gengsi di dunia sepak bola.
Membedah DNA Sang Serigala: Taktik, Bisnis, dan Filosofi Global
Setelah memahami sejarah dan identitas dasarnya, penting bagi kita untuk melihat bagaimana AS Roma bertransformasi di era sepak bola modern. Roma kini bukan lagi sekadar klub lokal yang puas dengan kejayaan masa lalu; sebaliknya, mereka kini sedang membangun fondasi untuk menjadi kekuatan berkelanjutan di Eropa.
Evolusi Taktis: Dari “Il Gioco” hingga Pragmatisme Modern
Evolusi Taktis: Dari “Il Gioco” hingga Pragmatisme Modern. Secara teknis, gaya bermain Roma selalu memiliki karakteristik yang unik. Jika di era 1980-an mereka di kenal dengan sistem Zona ala Nils Liedholm yang revolusioner. Maka pada awal 2000-an bersama Fabio Capello, Roma menampilkan kekuatan fisik dan serangan balik yang mematikan lewat duet Totti dan Batistuta.
Di era modern saat ini, kita melihat pergeseran yang menarik:
-
Era Luciano Spalletti: Memperkenalkan sistem “Striker Palsu” (False Nine) dengan Totti sebagai porosnya. Taktik ini bahkan menginspirasi banyak pelatih modern, termasuk Pep Guardiola.
-
Era José Mourinho: Membawa mentalitas “pemenang dengan segala cara.” Di bawah arahannya, Roma belajar menjadi tim yang solid secara defensif dan sangat berbahaya dalam situasi bola mati (set pieces).
-
Era Daniele De Rossi: Sebagai mantan gelandang jenius, De Rossi kini mencoba mengembalikan DNA menyerang Roma dengan penguasaan bola yang lebih dinamis dan fleksibilitas taktis yang lebih cair.
Transformasi Friedkin: Membangun Kekaisaran Bisnis
Sejak diambil alih oleh The Friedkin Group pada tahun 2020, AS Roma telah mengalami restrukturisasi besar-besaran. Visi pemilik baru ini bukan sekadar belanja pemain bintang secara instan. Melainkan fokus membangun ekosistem klub yang sehat secara finansial namun tetap kompetitif di lapangan.
Beberapa pilar utama strategi mereka meliputi:
-
Sentralisasi Brand: Roma kini lebih aktif dalam kolaborasi gaya hidup (lifestyle) dan mode untuk memperkuat posisi mereka sebagai ikon kota Roma yang modis.
-
Efisiensi Bursa Transfer: Fokus pada pencarian bakat (scouting) yang lebih cerdas serta pemanfaatan pemain bebas agen berkualitas tinggi (seperti Paulo Dybala dan Romelu Lukaku).
-
Kemitraan Global: Memperluas basis penggemar di wilayah Asia dan Amerika melalui tur pramusim dan aktivasi media sosial yang sangat kreatif.
Era Modern dan Ambisi Eropa
Era Modern dan Ambisi Eropa. Dalam beberapa tahun terakhir, AS Roma telah memasuki babak baru di bawah kepemilikan keluarga Friedkin dari Amerika Serikat. Penunjukan pelatih ternama seperti José Mourinho pada tahun 2021 pun membawa angin segar dan mentalitas juara yang baru.
Hasilnya langsung terasa nyata ketika Roma memenangkan edisi perdana UEFA Europa Conference League pada tahun 2022. Yang merupakan gelar Eropa pertama klub dalam lebih dari enam dekade. Kemenangan ini sontak memicu perayaan masif di jalanan kota Roma, sekaligus membuktikan betapa dahaganya masyarakat akan kesuksesan internasional.
Tantangan dan Masa Depan
Namun, tantangan tetap ada. Salah satu agenda terbesar Roma saat ini adalah pembangunan stadion baru milik sendiri. Memiliki stadion yang terpisah dari Stadio Olimpico (yang berbagi dengan Lazio dan milik pemerintah) di anggap sebagai langkah kunci demi meningkatkan pendapatan dan daya saing finansial di tingkat global.
Di sisi lain lapangan, Roma terus fokus pada pengembangan bakat muda melalui akademi mereka yang tersohor. Sembari tetap mendatangkan bintang-bintang dunia untuk terus bersaing di papan atas Serie A dan kompetisi Eropa.
Kesimpulan
Sebagai penutup, AS Roma adalah campuran antara tragedi dan kejayaan, antara air mata kekalahan yang menyakitkan dan euforia kemenangan yang tak tertandingi. Ia adalah klub yang tumbuh dari akar rumput kota tua. Bertahan melalui masa-masa sulit, dan tetap berdiri tegak sebagai simbol kebanggaan Fans As Roma.