
Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) bukan sekadar hamparan hijau di peta Provinsi Riau
Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) bukan sekadar hamparan hijau di peta Provinsi Riau. Ia adalah simbol perlawanan alam terhadap ekspansi industri, rumah terakhir bagi gajah sumatera yang kian terdesak, dan sekaligus cermin retak dari pengelolaan konservasi di Indonesia. Terletak di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu, Tesso Nilo memegang predikat sebagai salah satu hutan dataran rendah kering terkaya di dunia dalam hal keanekaragaman hayati. Namun, di balik kemegahan biologisnya, taman nasional ini menyimpan luka yang dalam akibat perambahan dan konflik kepentingan.
Kekayaan Hayati yang Tak Tertandingi
Secara ekologis, Tesso Nilo adalah keajaiban. Penelitian yang di lakukan oleh para ahli botani menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki tingkat vaskularisasi tanaman yang sangat tinggi. Bayangkan saja, dalam satu hektar lahan di Tesso Nilo, di temukan lebih dari 218 jenis tanaman. Angka ini bahkan melampaui kekayaan jenis hutan hujan Amazon di beberapa titik penelitian.
Kawasan ini merupakan habitat krusial bagi dua mamalia besar kebanggaan Indonesia yang kini berstatus kritis: Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Bagi gajah, Tesso Nilo adalah jalur jelajah (home range) yang tak tergantikan. Sifat gajah yang membutuhkan ruang luas untuk bermigrasi dan mencari makan menjadikan hamparan hutan dataran rendah ini sebagai paru-paru utama kelangsungan hidup mereka.
Selain mamalia besar, Tesso Nilo juga menjadi rumah bagi ratusan spesies burung, reptil, dan serangga yang membangun ekosistem yang kompleks. Keberadaan sungai-sungai kecil yang mengalir di dalamnya menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat tradisional di sekitar kawasan yang masih bergantung pada hasil hutan non-kayu dan perikanan air tawar.
Sejarah dan Perluasan Kawasan
Tesso Nilo resmi di tetapkan sebagai Taman Nasional pada tahun 2004 dengan luas awal sekitar 38.576 hektar. Pengumuman ini di sambut dengan optimisme tinggi oleh para aktivis lingkungan global. Enam tahun kemudian, pada 2009, pemerintah memperluas kawasannya menjadi 83.068 hektar dengan mengintegrasikan bekas lahan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) di sekitarnya.
Tujuan perluasan ini jelas: menciptakan koridor konservasi yang cukup luas untuk menampung populasi gajah yang kian terjepit. Namun, perluasan di atas kertas ini tidak di sertai dengan pengamanan lapangan yang memadai. Seiring dengan peningkatan statusnya, tekanan dari luar justru semakin menghebat.
Ancaman Nyata: Deforestasi dan Kebun Sawit
Jika kita melihat citra satelit Tesso Nilo selama dua dekade terakhir, gambaran yang muncul sangat memprihatinkan. Warna hijau pekat hutan primer perlahan-lahan berubah menjadi pola kotak-kotak yang seragam: perkebunan kelapa sawit. Tesso Nilo sering di juluki sebagai salah satu taman nasional dengan tingkat kerusakan paling parah di Indonesia.
Masalah utama berasal dari perambahan ilegal. Ribuan hektar hutan telah di babat dan di ubah menjadi perkebunan sawit oleh oknum-oknum yang memanfaatkan celah pengawasan. Hal ini di picu oleh tingginya nilai ekonomi sawit dan migrasi penduduk yang mencari lahan garapan. Ironisnya, perambahan ini sering kali melibatkan modal besar yang berlindung di balik kedok “petani kecil”.
Akibat dari deforestasi ini bukan hanya hilangnya pepohonan, melainkan hancurnya struktur ekosistem. Ketika hutan berganti menjadi monokultur sawit, daya serap tanah terhadap air menurun drastis, suhu mikro kawasan meningkat, dan yang paling berbahaya adalah hilangnya sumber pakan alami bagi satwa liar.
Konflik Manusia dan Gajah: Tragedi yang Berulang
Penyempitan habitat secara otomatis menggiring satwa ke arah pemukiman dan perkebunan warga. Gajah sumatera, yang memiliki ingatan kuat terhadap jalur migrasi leluhurnya, akan tetap melewati jalur yang sama meski kini jalur tersebut telah berubah menjadi dapur rumah atau kebun sawit warga.
Konflik ini sering berakhir tragis. Petani yang merasa mata pencahariannya terancam sering kali melakukan tindakan represif, mulai dari memasang pagar listrik bertegangan tinggi hingga penggunaan racun. Di sisi lain, gajah sering dianggap sebagai “hama”. Padahal, dalam perspektif ekologis, manusialah yang merambah “rumah” mereka.
Kematian gajah di Tesso Nilo menjadi berita rutin yang menyedihkan. Setiap bangkai gajah yang di temukan tanpa gading atau mati karena racun adalah lonceng kematian bagi biodiversitas Indonesia. Upaya mitigasi seperti pembentukan Flying Squad (tim gajah jinak dan parajurit untuk menghalau gajah liar) telah di lakukan, namun ini hanyalah solusi jangka pendek untuk masalah sistemik yang jauh lebih besar.
Upaya Restorasi dan Tantangan Sosial
Pemerintah melalui Balai Taman Nasional Tesso Nilo (BTNTN) bersama berbagai organisasi non-pemerintah telah mencoba berbagai skema untuk memulihkan kawasan ini. Salah satunya adalah skema Perhutanan Sosial dan kemitraan konservasi. Melalui pendekatan ini, masyarakat yang terlanjur bermukim di dalam kawasan di ajak untuk beralih dari pola tanam monokultur ke sistem agroforestri yang lebih ramah lingkungan.
Namun, tantangan sosial politik di Tesso Nilo sangatlah kompleks. Ada tumpang tindih klaim lahan, keterlibatan mafia tanah, hingga persoalan ekonomi masyarakat bawah yang tidak memiliki pilihan mata pencaharian lain. Penegakan hukum sering kali tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Menindak petani kecil tanpa memberikan solusi ekonomi hanya akan menciptakan konflik sosial baru, sementara dalang di balik perambahan skala besar sering kali sulit di sentuh hukum.
Pentingnya Tesso Nilo bagi Dunia
Mengapa kita harus peduli pada Tesso Nilo? Selain sebagai penyimpan karbon yang penting untuk memitigasi perubahan iklim global, Tesso Nilo adalah laboratorium alam. Kepunahan spesies di sini bukan hanya kehilangan bagi Riau atau Indonesia, melainkan kerugian bagi ilmu pengetahuan dunia. Tanaman-tanaman obat yang belum teridentifikasi dan potensi genetika yang ada di dalamnya bisa jadi adalah kunci bagi pengobatan di masa depan.
Selain itu, keberadaan hutan Tesso Nilo berfungsi sebagai pengatur tata air (hidrologis) bagi wilayah sekitarnya. Tanpa hutan ini, ancaman banjir saat musim hujan dan kekeringan ekstrem saat kemarau akan menjadi ancaman nyata bagi jutaan penduduk di Provinsi Riau. Asap dari kebakaran hutan yang sering terjadi di lahan gambat dan hutan mineral di sekitar Tesso Nilo juga merupakan masalah kesehatan publik yang lintas batas negara.
Menatap Masa Depan: Harapan yang Tersisa
Masa depan Tesso Nilo bergantung pada keberanian politik (political will) dan kolaborasi multisektoral. Pemulihan kawasan ini tidak bisa hanya dibebankan pada pundak polisi hutan. Di perlukan penataan ruang yang tegas, penghentian total konversi hutan, dan pembersihan rantai pasok sawit agar produk yang berasal dari lahan ilegal di dalam taman nasional tidak masuk ke pasar global.
Edukasi kepada masyarakat juga krusial. Membangun kesadaran bahwa gajah adalah aset wisata dan penyeimbang alam, bukan musuh, harus di mulai sejak dini. Ekowisata berbasis konservasi dapat menjadi alternatif ekonomi yang menjanjikan, di mana masyarakat mendapatkan penghasilan dari menjaga hutan, bukan menebangnya.
Tesso Nilo saat ini berada di titik nadir, namun bukan berarti tanpa harapan. Masih ada petak-petak hutan yang utuh, masih ada suara burung di pagi hari, dan masih ada tapak gajah yang melintas di tanah merah. Menyelamatkan Tesso Nilo adalah tentang menyelamatkan martabat kita sebagai bangsa yang di anugerahi kekayaan alam luar biasa. Salah satu pilar keanekaragaman hayati dunia ia adalah Tesso Nilo.