Pesut Mahakam: Sang Penjaga Sungai yang Kian Terasing

Di jantung Kalimantan Timur, membelah belantara hijau yang rimbun, mengalirlah Sungai Mahakam

Di jantung Kalimantan Timur, membelah belantara hijau yang rimbun, mengalirlah Sungai Mahakam. Sungai ini bukan sekadar jalur transportasi atau sumber air bagi jutaan manusia; ia adalah rumah bagi salah satu mamalia air tawar paling langka di dunia: Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris).

Berbeda dengan kerabatnya yang menari di ombak laut lepas, Pesut Mahakam adalah penghuni setia perairan tawar. Namun, keberadaan mereka kini ibarat lilin di ujung angin—tertiup kencang oleh modernisasi, polusi, dan hilangnya ruang hidup.

Mengenal Sang Mamalia Unik

Secara taksonomi, Pesut Mahakam merupakan subspesies dari Lumba-lumba Irrawaddy. Jika lumba-lumba laut memiliki moncong panjang (paruh). Pesut tampil berbeda dengan kepala membulat menyerupai bola. Tubuhnya berwarna abu-abu polos, tanpa pola yang mencolok, memberikan kesan tenang namun misterius saat muncul ke permukaan.

Mereka memiliki sirip punggung yang kecil dan membulat, serta sirip dada yang lebar. Dalam budaya lokal, pesut bukan sekadar hewan; mereka adalah bagian dari mitologi masyarakat Kutai dan Dayak. Salah satu legenda yang paling terkenal mengisahkan bahwa pesut adalah penjelmaan dari dua anak kecil yang ditelantarkan. Yang kemudian berubah wujud agar bisa bertahan hidup di sungai.

Habitat yang Kian Menyempit

Pesut Mahakam secara spesifik mendiami wilayah perairan sungai di Kalimantan Timur, mulai dari muara hingga jauh ke hulu. Mereka sangat menyukai daerah pertemuan anak sungai (konfluens) karena di sanalah konsentrasi ikan—makanan utama mereka—paling tinggi.

Namun, habitat ini kini menjadi jalur sibuk. Sungai Mahakam adalah urat nadi pengiriman batu bara dan logistik lainnya. Setiap hari, kapal-kapal ponton raksasa melintasi area yang seharusnya menjadi zona tenang bagi pesut. Kebisingan bawah air yang dihasilkan oleh mesin kapal mengganggu sistem ekolokasi pesut—indera utama yang mereka gunakan untuk navigasi dan berburu di air sungai yang keruh.

Ancaman Nyata di Balik Keruhnya Air

Ancaman Nyata di Balik Keruhnya Air. Mengapa populasi Pesut Mahakam di prediksi tinggal kurang dari 80 ekor? Jawabannya kompleks, melibatkan rantai masalah yang saling berkaitan:

  1. Kematian Akibat Alat Tangkap (Rengge): Ancaman terbesar bukanlah predator alami, melainkan jaring nelayan atau rengge. Pesut yang terjerat jaring tidak bisa muncul ke permukaan untuk bernapas, menyebabkan mereka mati tenggelam dalam hitungan menit.

  2. Lalu Lintas Kapal Ponton: Selain kebisingan, risiko tabrakan fisik sangat nyata. Kapal-kapal besar juga menyebabkan erosi tebing sungai yang mengubah kedalaman dan kualitas air.

  3. Alih Fungsi Lahan dan Polusi: Pembukaan lahan kelapa sawit dan aktivitas pertambangan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Mahakam menyebabkan sedimentasi tinggi. Limbah kimia dari aktivitas ini juga menurunkan kualitas kesehatan ikan-ikan kecil, yang pada akhirnya meracuni pesut melalui rantai makanan.

  4. Penyusutan Ketersediaan Pangan: Penangkapan ikan secara berlebihan oleh manusia menggunakan metode yang tidak ramah lingkungan (seperti setrum atau racun) membuat pesut harus berkompetisi keras hanya untuk sekadar kenyang.

Kedalaman Biologis: Adaptasi dalam Kegelapan

Secara evolusioner, Pesut Mahakam telah beradaptasi secara luar biasa dengan kondisi sungai yang keruh. Berbeda dengan lumba-lumba laut yang mengandalkan penglihatan jernih, pesut memiliki mata yang kecil namun tetap fungsional. Namun, “mata” utama mereka sebenarnya terletak pada dahi mereka yang menonjol, yang di sebut melon.

Melon ini berfungsi sebagai lensa akustik untuk memfokuskan gelombang suara dalam sistem ekolokasi. Di perairan Mahakam yang jarak pandangnya seringkali hanya beberapa sentimeter akibat sedimen lumpur, kemampuan ini memungkinkan mereka mendeteksi mangsa, menghindari rintangan, dan berkomunikasi dengan kawanannya melalui rangkaian bunyi klik dan siulan. Inilah mengapa polusi suara dari mesin kapal menjadi ancaman eksistensial; bagi pesut, kebisingan itu ibarat manusia yang di paksa berjalan di tengah badai pasir sambil mendengarkan suara sirene yang memekakkan telinga.

Dilema Sosial dan Ekonomi di Sepanjang Bantaran

Dilema Sosial dan Ekonomi di Sepanjang Bantaran. Masalah kepunahan pesut tidak bisa di lepaskan dari realitas ekonomi masyarakat lokal. Bagi nelayan tradisional di Kutai Kartanegara, sungai adalah satu-satunya ladang penghidupan. Penggunaan jaring insang bukan di lakukan untuk membunuh pesut secara sengaja, melainkan karena metode ini di anggap paling efektif untuk menangkap ikan di arus sungai yang kuat.

Ketegangan muncul ketika area pencarian ikan nelayan tumpang tindih dengan area mencari makan pesut. Seringkali, saat seekor pesut terjerat, nelayan merasa bimbang. Di satu sisi, ada rasa kasihan dan larangan adat, namun di sisi lain, merusak jaring untuk menyelamatkan pesut berarti kehilangan alat kerja yang mahal. Oleh karena itu, solusi konservasi tidak boleh hanya bersifat melarang, tetapi harus memberikan kompensasi atau alternatif teknologi yang tidak merugikan ekonomi rakyat kecil.

Membangun Strategi “Green Corridor”

  • Restorasi Hutan Riparian: Menanam kembali pepohonan di pinggir sungai untuk mengurangi erosi dan memberikan naungan bagi ikan-ikan kecil yang menjadi pakan pesut.

  • Regulasi Jalur Transportasi: Mengatur jadwal dan kecepatan kapal ponton batu bara pada jam-jam tertentu di mana pesut di ketahui sedang aktif berburu (biasanya pada pagi dan sore hari).

  • Zonasi Budidaya: Mendorong masyarakat untuk beralih dari penangkapan ikan liar ke budidaya perikanan darat yang ramah lingkungan, sehingga tekanan terhadap populasi ikan di sungai berkurang.

Harapan dari Generasi Muda dan Digitalisasi

Di era digital ini, kampanye perlindungan Pesut Mahakam mendapatkan nafas baru melalui media sosial. Banyak komunitas pemuda di Samarinda dan Tenggarong yang mulai melakukan kampanye kreatif, mulai dari dokumenter pendek hingga pembuatan merchandise yang hasilnya didonasikan untuk konservasi.

Keterlibatan anak muda sangat krusial karena mereka adalah pemegang kebijakan di masa depan. Jika kesadaran kolektif ini terus tumbuh, Pesut Mahakam tidak akan berakhir sebagai tulang belulang di museum, melainkan tetap menjadi kebanggaan Kalimantan yang berenang bebas di alamnya.

Upaya Konservasi: Harapan di Tengah Keterbatasan

Upaya Konservasi: Harapan di Tengah Keterbatasan. Pemerintah Indonesia, melalui berbagai kementerian dan bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat seperti Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), terus berupaya melakukan penyelamatan.

1. Penetapan Kawasan Kawasan Konservasi

Tahun 2020 menjadi tonggak sejarah dengan di tetapkannya Kawasan Konservasi Perairan Habitat Pesut Mahakam di Kabupaten Kutai Kartanegara. Langkah ini bertujuan untuk mengatur zonasi, di mana terdapat area inti yang tidak boleh di lewati kapal besar atau aktivitas penangkapan ikan yang merusak.

2. Teknologi dan Inovasi

Untuk mengurangi angka kematian akibat jaring, para peneliti mulai memperkenalkan pengusir akustik. Alat ini mengeluarkan suara frekuensi tertentu yang memberi peringatan kepada pesut agar menjauhi jaring nelayan.

3. Edukasi Masyarakat Lokal

Mengubah cara pandang masyarakat adalah kunci. Saat ini, banyak desa di pinggiran Mahakam mulai mengembangkan ekowisata berbasis pengamatan pesut. Dengan menjadikan pesut sebagai aset wisata yang hidup, masyarakat merasa memiliki tanggung jawab lebih untuk menjaga kelestarian sungai demi keberlangsungan ekonomi mereka sendiri.

Mengapa Kita Harus Peduli?

Kehilangan Pesut Mahakam bukan hanya berarti kehilangan satu spesies mamalia. Pesut adalah indikator kesehatan ekosistem Sungai Mahakam. Jika pesut tidak lagi bisa bertahan hidup di sana, itu adalah sinyal bahwa kualitas air dan lingkungan sungai tersebut sudah sangat buruk bagi manusia yang tinggal di sekitarnya.

Menyelamatkan pesut berarti menyelamatkan sistem perairan yang menghidupi ribuan nelayan, menjaga keseimbangan populasi ikan, dan melestarikan warisan budaya Kalimantan.

Di butuhkan sinergi antara kebijakan pemerintah yang tegas terhadap industri pertambangan, kesadaran nelayan untuk tidak menggunakan alat tangkap berbahaya, serta dukungan publik luas untuk menyuarakan perlindungan habitat ini.

Kesimpulan

Di tengah arus deras modernisasi dan eksploitasi alam, mereka tetap bertahan dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Setiap sirip yang muncul ke permukaan Mahakam adalah sebuah pengingat bahwa alam memiliki batas, dan tugas kita adalah memastikan batas itu tidak terlampaui hingga semuanya terlambat, demi menjaga keberlangsungan Pesut Mahakam