
Kenapa Sawit Kita Kalah Jauh Dari Malaysia? Ini Biang Keroknya!
Kenapa Sawit Kita Kalah Jauh Dari Malaysia? Ini Biang Keroknya Yang Membuat Produktivitas Indonesia Masih Belum Baik. Indonesia selama ini di kenal sebagai produsen kelapa Sawit terbesar di dunia. Namun ironisnya, dari sisi produktivitas per hektare. Namun tanaman ini di Indonesia masih tertinggal di banding Malaysia. Fakta ini kerap memunculkan pertanyaan besar, mengingat luas lahan di Indonesia jauh lebih besar dan tenaga kerja melimpah. Meski demikian, keunggulan kuantitas ternyata belum otomatis berbanding lurus dengan kualitas dan efisiensi produksi.
Perbedaan produktivitas ini bukan terjadi begitu saja. Ada rangkaian faktor struktural, teknis, hingga kebijakan yang membuat Sawit Malaysia mampu menghasilkan lebih banyak tandan buah segar per hektare. Jika di bandingkan dengan Indonesia. Jika di telusuri lebih dalam, persoalan ini tidak hanya menyangkut petani, tetapi juga menyentuh ekosistem industri sawit secara keseluruhan. Berikut sejumlah penyebab utama yang kerap disebut sebagai biang kerok ketertinggalan produktivitas sawit Indonesia.
Kualitas Bibit Dan Peremajaan Yang Tertinggal
Salah satu faktor paling krusial adalah Kualitas Bibit Dan Peremajaan Yang Tertinggal. Hingga saat ini, masih banyak petani sawit rakyat yang menggunakan bibit tidak bersertifikat atau bibit asal-asalan. Akibatnya, potensi produksi pohon sawit sejak awal sudah tidak optimal. Berbeda dengan Malaysia yang lebih ketat dalam penggunaan bibit unggul dan pengawasan distribusinya. Selain bibit, persoalan peremajaan atau replanting juga menjadi masalah serius. Banyak kebun sawit di Indonesia telah berusia tua. Bahkan melewati usia produktif ideal.
Namun, proses peremajaan sering tertunda karena keterbatasan modal, akses pembiayaan yang rumit. Serta kekhawatiran petani kehilangan pendapatan selama masa tanam ulang. Transisi dari kebun tua ke kebun baru pun berjalan lambat. Sebaliknya, Malaysia relatif lebih agresif dalam mendorong replanting terjadwal. Dukungan pendanaan dan pendampingan teknis membuat petani lebih siap mengganti tanaman tua dengan bibit unggul baru. Dampaknya, produktivitas di Malaysia bisa di jaga tetap tinggi secara konsisten.
Manajemen Kebun Dan Teknologi Yang Belum Merata
Penyebab berikutnya terletak pada Manajemen Kebun Dan Teknologi Yang Belum Merata. Di Indonesia, kesenjangan antara perusahaan besar dan petani rakyat masih sangat lebar. Perusahaan skala besar umumnya sudah menerapkan praktik terbaik. Tentunya mulai dari pemupukan presisi hingga mekanisasi panen. Namun, petani kecil yang menguasai porsi lahan signifikan seringkali masih mengandalkan cara tradisional. Penggunaan pupuk yang tidak tepat dosis, jadwal panen yang tidak konsisten. Dan hingga minimnya pencatatan produksi menjadi kendala klasik. Kondisi ini berpengaruh langsung pada hasil panen per hektare.
Di sisi lain, Malaysia lebih cepat mengadopsi teknologi. Serta yang termasuk penggunaan data, sensor kebun, dan mekanisasi untuk menekan kehilangan hasil. Transisi menuju pertanian yang modern di Indonesia sebenarnya sudah berjalan, tetapi belum merata. Kurangnya pelatihan berkelanjutan dan pendampingan teknis membuat banyak petani sulit mengejar standar produktivitas tinggi. Padahal, dengan manajemen kebun yang lebih rapi. Dan juga yang potensi peningkatan produksi masih sangat besar.
Kebijakan, Infrastruktur, Dan Tantangan SDM
Faktor ketiga yang tak kalah penting adalah Kebijakan, Infrastruktur, Dan Tantangan SDM. Indonesia memiliki tantangan geografis yang lebih kompleks di banding Malaysia. Banyak kebun berada di wilayah terpencil dengan akses jalan terbatas. Akibatnya, distribusi pupuk, alat produksi. Terlebihnya hingga pengangkutan hasil panen menjadi tidak efisien dan meningkatkan biaya. Selain itu, kebijakan sawit di Indonesia sering berubah-ubah dan cenderung tumpang tindih. Hal ini menciptakan ketidakpastian bagi pelaku usaha, terutama petani kecil. Proses perizinan, sertifikasi, hingga akses program pemerintah kerap di nilai rumit. Transisi menuju berkelanjutan pun menjadi lebih lambat. Dari sisi sumber daya manusia, Malaysia di nilai lebih fokus pada peningkatan keterampilan tenaga kerja sawit.
Pelatihan teknis dilakukan secara rutin dan terstruktur. Sementara di Indonesia, kualitas SDM masih sangat beragam. Dan tergantung wilayah dan akses informasi. Padahal, produktivitas tinggi sangat bergantung pada kedisiplinan dan keahlian tenaga kerja di lapangan. Secara keseluruhan, kalahnya produktivitasnya Indonesia dari Malaysia bukan di sebabkan satu faktor tunggal. Ini adalah akumulasi dari persoalan bibit, manajemen, teknologi, kebijakan, hingga SDM. Namun, kabar baiknya, hampir semua faktor tersebut masih bisa di perbaiki. Dengan pembenahan yang konsisten dan terarah, sawit Indonesia sebenarnya punya peluang besar untuk mengejar. Bahkan melampaui produktivitas Malaysia di masa depan tentang dunia kelapa Sawit.